MENGAPA ANAK SAYA MENURUT DENGAN GURUNYA, SEDANG DENGAN SAYA TIDAK?

Pernyataan sekaligus pertanyaan seperti itu muncul hampir setiap tahun seiring dengan munculnya siswa/i baru  jenjang pra sekolah hingga SD pada setiap tahun pelajaran baru. Anak yang semula menurut dan “sembunyi di ketiak ibunya”-baca: orangtua, setelah bersekolah 3-4 bulan jadi mencuekkan ibu atau ayahnya, atau orang di rumah.

Di TK BIAS Yogyakarta yang beralamat di jalan Imogiri Timur, terlihat dari segannya rata-rata anak menuruti  instruksi orangtuanya untuk segera bergegas pulang apabila orangtua sudah datang menjemput. Sekalipun berada di sekolah dari pukul  tujuh hingga tiga sore, mereka masih kerasan. Ogah-ogahan, ketika orangtua meminta segera mengambil tas, tempat minum dan mengenakan sepatu.

Seperti yang tampak pada suatu sore; Naufal, bocah  mungil empat tahun, masih berlari-lari mengelilingi teras kelas bersama temannya meskipun sudah dijemput; sementara jarum panjang dan pendek mulai bertumpuk di angka tiga. Panggilan mamanya tak dihiraukan. Mama gelisah dan mulai terlihat tegang. Akhirnya  mengeluarkan senjatanya.

“…Dah, mama tinggal aja ya. Ustadzah juga mau pulang tu… Nanti Adek tidur di sekolah aja sama pak satpam…”.  Tapi sayang…, senjata ini tumpul. Kalimat seperti  ini sudah sering didengar Naufal, maka mudah ditebak;  “Mamaku  bohong, kemarin mama juga bilang gitu, tapi aku nggak ditinggal…” jelas Naufal pada teman bermainnya.

Tidak lama kemudian, ustadzah segera mendekati,  “Oh ya, nanti di rumah-Mas Naufal mau mengukur panjang apa ya…? Seperti tadi di kelas, mengukur pakai jengkal tangan kita…” ustadzah menggerak-gerakkan jengkalnya mengukur tubuh Naufal ke arah atas.

“Panjang kasurku…!”, Naufal tangkas merespon sambil menegap-negapkan tubuhnya untuk diukur.

“Sip. Kasur siapa lagi…?”

Naufal berbinar menatap mamanya, “Kasur mama…!”

“Sip. Oh ya, selain kasur, apalagi ya…yang bisa diukur dengan jengkal tangan Mas Naufal?”

………………………………………………………………………………………………

Tak lama kemudian, pemandangan yang tampak adalah Naufal mengambil tempat minum dan tasnya, lalu bergegas mengenakan sepatu dan menarik-narik tangan mamanya agar segera menuju mobil. Balik sebentar, lupa belum salim dengan ustadzah, lalu gesit menyusul ibunya yang sudah duduk di kursi sopir dengan semangat.

Bila kita perhatikan, didapat “data mama” sebagai berikut :

  1. Mama meminta cepat-cepat
  2. Mama mengancam (dengan ancaman yang sama)
  3. Mama tidak pernah memenuhi ancamannya

Adapun “data ustadzah” sebagai berikut:

  1. Usatdzah tidak menyinggung hal untuk cepat-cepat pulang
  2. Ustadzah  tidak marah
  3. Ustadzah membangkitkan antusias Naufal untuk melakukan sesuatu di rumah tanpa paksaan dan ancaman

Maka, mudah bukan… untuk membuat anak “menurut”, asal mengetahui jurus-jurusnya dan “nggak pake marah”. Memang sih, komunikasi bukan satu-satunya cara untuk membuat anak “menurut”, bisa jadi si Naufal tengah asyik-asyiknya menemukan dunia baru di sekolah, sebuah tantangan baru baginya untuk bereksplorasi, sosialisasi, komunikasi, dan si…si…lainnya. Bila sudah senang, selanjutnya terserah anda, kata sebuah iklan! Jadi, mendidik anak agar “menurut” orang tua, kenapa tidak?

Sumber : Sri Jati Rahayu

Advertisements

Lika-liku Dalam Mendidik Anak

Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

  1. Terlalu lemah Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.
  1. Terlalu menekan Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.
  1. Perfeksionis Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.
  1. Tidak memberi perhatian Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.
  1. Terlalu cemas akan kesehatannya Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.
  1. Terlalu memanjakan Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.
  1. Tidak pernah memberi kepercayaan Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. “Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?” Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.
  1. Menolak kehadiran anak Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.
  1. Suka menghukum Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.
  1. Suka menggoda Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.

HAL-HAL YANG DIINGINKAN BAGI ANAK

Sebagai orang tua, kebanyakan dari kita lebih memperhatikan perilaku anak, dan bukannya perilaku kita sebagai orang tua. Tentu ini sesuatu yang tak adil bagi anak. Cobalah lihat diri Anda dari sudut pandang anak.

Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka:

  1. Tidak bertengkar di hadapan mereka. Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?
  1. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya. Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
  1. Orang tua yang jujur. Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
  1. Toleran terhadap orang lain. Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
  1. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.
  1. Mau membangun semangat tim bersama mereka. Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.
  1. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka. Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu.
  1. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.
  1. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.
  1. Konsisten. Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.

Sumber : Isye Cahya Hikmawati, S. Psi, M.A

Memanfaatkan Daycare

Orang tua yang bekerja, menyerahkan pengasuhan anak ke orang lain, selama mereka di kantor, menjadi pilihan yang sulit ditawar.  Umumnya, mempekerjakan babysistter atau mempercayakan anak ke saudara, seperti mertua atau ipar.  Alternatif yang kini mulai berkembang, walau tidak selalu menjadi pilihan utama, adalah menitipkan anak ke daycare. Apa kelebihannya dibandingkan menyewa babysitter? Kebutuhan fisik, mulai dari asupan gizi sampai kebersihan badan, memang bisa dipenuhi babysitter.  Namun anak juga membutuhkan stimulasi-stimulasi yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.  Tapi anak juga perlu bersosialisasi agar mengerti cara hidup dan aturan dalam kelompok.  Hal-hal inilah yang belum tentu bisa dilakukan babysitter“Daycare  yang baik berfungsi lebih dari sekedar tempat penitipan, tapi juga sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan perangsangan, khususnya di periode emas (golden age) seorang anak yakni usia 0-5 tahun.  Karena pada masa ini, anak mampu menyerap segala sesuatu dengan cepat.  Apabila ingin memercayakan pengasuhan anak kepada pihak yang kompeten,ada hal-hal yang perlu dicermati.

Anggaran. Biaya pendidikan, khususnya bagi anak usia dini, hendaknya tidak dianggap sekedar pengeluaran, melainkan bentuk investasi jangka panjang.   Jika ingin memanfaatkan fasilitas daycare, sisihkan sebagian penghasilan keluarga untuk ini.

Seleksi lokasi. Carilah informasi dari internet atau rekomendasi dari teman.  Seleksi awal hendaknya mempertimbangkan lokasi.  Pilih yang dekat dengan kantor untuk menghemat waktu.  Perhatikan pula faktor keamanan lokasi.  Sebaiknya jangan memilih daycare di tempat yang terlalu terbuka dan kurang pengawasan.

Suasana di daycare. Ini adalah faktor yang tidak bisa diindahkan begitu saja.  Misalnya perbandingan antara jumlah pengasuh (caregivers) dengan jumlah anak, serta kegiatan hariannya.  Luangkan waktu untuk datang berkunjung dan mengamati lansung semua fasilitas yang disediakan.

Kesediaan tenaga ahli. Kita perlu tahu apakah daycare itu menyediakan tenaga-tenaga ahli seputar kesehatan dan psikologi anak, ahli gizi dan psikolog perkembangan.  Ini sudah merupakan kebutuhan dasar.  Hal ini bisa kita tanyakan kepada pengelola.  Sebagai pertimbangan lebih lanjut, tidak ada salahnya bertanya latar belakang para pengasuh yang bekerja di sana.

Jangan Emosi Hadapi Protes Anak

Membesarkan, mendidik dan mendewasakan anak secara proporsional dan professional, disela-sela kesibukan kerja dan aktivitas.  “Terkadang bikin pusing”.  Sekarang ini dengan makin canggihnya peralatan telekomunikasi dan pesatnya perkembangan dunia maya, maka mendidik anak harus bisa memadukan seni mengawasi dengan memberikan kepercayaan.  Karena seketat apa pun anak diawasi dalam penggunaan berbagai macam permainan, Komputer dengan akses internetnya, maka ketika anak di luar rumah, orang tua hanya bisa ‘pasrah’ dan berdoa agar anak-anaknya benar-benar tak tergoda untuk melakukan penyimpangan.  “Semua itu bisa kita lakukan, ketika dalam kesempatan bertemu benar-benar terjadi komunikasi yang berkualitas.  Memang tak jarang anak protes karena perlakuan ketat dalam pengawasan.  Beberapa ungkapan terkadang cukup tajam.  Seperti misalnya ungkapan protes ‘Ini urusan pribadiku, mengapa dicampuri?.  Namun menghadapi protes anak itu, jangan emosi.  Justru dengan penuh kesabaran dan ketekunan, dengan makin memahami dan mendalami anak-anak, kita (suami+istri) bisa saling bahu-membahu dan saling mengisi dalam membina anak-anak mereka.

Terkait dengan dunia teknologi informasi, kita bisa kenalkan pada anak sejak dini.  Kepercayaan dan tanggungjawab pun diberikan, kendati tetap tak bisa 100%.  Mengajarkan anak mandiri terkadang muncul dilema tersendiri.  Namun ketika mandiri, yah, cepat hilang (maksudnya gak tinggal bareng kita lagi).  Disini kedekatan emosional ala budaya Timur menjadi tantangan tersendiri.

Keluarga tetap nomor satu.  Jangan sampai aktivitas itu mengalahkan perhatian pada keluarga, khususnya anak-anak.

Sumber : Nurul Arifin (artis, aktivis parpol, aktivis kegiatan sosial)