SMPIT BINA ANAK SHOLEH YOGYAKARTA

Latar Belakang

Allah menurunkan Islam di muka bumi sebagai rahmatan lil’alamin, maka kaum mukminin haruslah dapat menjadi suri tauladan dalam mewujudkan tujuan diciptakannya manusia sebagai kholifah fil ardh.  Untuk mewujudkan hal tersebut yayasan Bina Anak Sholeh Yogyakarta sejak tahun 1998 mendirikan lembaga Pendidikan Islam Terpadu.

Seiring dengan perkembangan dukungan dan respon yang positif dari masyarakat terhadap pendidikan Islam Terpadu, maka berkembanglah SIBI dalam jaringan SIBI BIAS Yogyakarta se Jawa Tengah yaitu : SIBI BIAS Klaten, SIBI BIAS Tegal, SIBI Ath Thoriq Gombong, SIBI BIAS Cilacap, SIBI Ya Ummi Fatimah Pati, SIBI Ya Ummi Fatimah Kudus, SIBI BIAS Temanggung, SIBI BIAS Magelang, SIBI BIAS Semarang.

Untuk menjaga kesinambungan dan kelangsungan model pendidikan yang terintegrasi yaitu Ilmu Kauniyah dan Tanziliah yang telah dirintis dari usia Play Group hingga SD maka dengan mengharap Ridlo Allah Yayasan Ya Ummi Fatimah mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Ittihadul Muwahidin Pati yang disingkat dengan nama SMPIT Ittihadul Muwahidin Pati.  Pada perkembangannya berdiri SMAIT Ittihadul Muwahidin Pati.  Saat ini panitia dari Yayasan BIAS Yogyakarta sedang memproses berdirinya SMAIT (nama masih menunggu hasil poling dari siswa SDIT dan SMPIT BIAS).

Visi

Mencetak calon teknolog yang beraqidah shohehah (lurus) dan berakhlak kharimah/mulia.

Misi

  • Menyelenggarakan KBM dengan target pencapaian minimal 70%.
  • Pembelajaran bahasa arab dengan penguasaaan membaca Kitab Muqarrar Tauhid (kitab gundul/kitab belum berharokat).
  • Menguasai/hafal surat-surat minimal Juz 30.
  • Pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode Qiroati.
  • Menyelenggarakan KBM dengan tidak memisahkan antara kauniya dan ilmu tanziliah dalam mewujudkan sukses dunia dan akhirat.
  • Menyelenggarakan KBM dengan mendasarkan pada model pendidikan yang dipakai Rasulullah SAW dalam membangun umat Islam yang rahmatan lil’alamin.

Target Standarisasi Kelulusan

  1. Kognitif
  • Nilai minimal 70 (target capaian 70%)
  • Siswa mampu membaca kitab berbahasa Arab
  • Siswa mampu bahasa Inggris Aktif
  • Minimal Hafal 1 juz Al Qur’an (juz 30)
  • Tertib dalam melaksanakan ibadah ta’aluh (wudhu dan sholat)
  1. Kepribadian
  • Memiliki jiwa berjuang/berjihad yang diwujudkan dalam bentuk :

–          Sholat berjama’ah lima waktu di masjid

–          Terbiasa berinfak

–          Semangat dalam melaksanakan tanggung jawab, bersegera dengan usaha maksimal

  • Memiliki sikap disiplin
  • Mampu merawat barang pribadi
  1. Pertumbuhan dan Kesehatan

Memiliki pola hidup sehat diri dan lingkungan

Gedung Sekolah

Tahun pelajaran 2009/2010 tersedia gedung 11 lokal dengan penggunaan : 5 ruang kelas, 2 ruang kantor, 1 ruang perpustakaan, 1 lab fisika, 1 lab biologi, 1 kelas rekreatif.

Gedung Asrama

Gedung asrama tersedia 3 asrama putra dan 3 asrama putri yang representatif di Perumahan Wirosaban dan Wiromulyo di wilayah Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta

Sarana Olah Raga

Lapangan sepakbola dan memanah

Lapangan bola tangkis

Lapangan bulu tangkis

Ekstrakurikuler

–          Teater

–          Gitar

–          Melukis

–          Renang

–          Memanah

–          Taekwondo

Profil Dewan Penasihat

  1. Drs. H. Sunardi Sahuri
  2. K.H. Abdul Hasyim
  3. Bpk.H.Muhammad Djatmiko
  4. Ibu Hj.Ir.Lilik Indriati

Tenaga Pengajar

Para pendidik yang sudah berpengalaman dan kompeten di bidangnya dari berbagai disiplin keilmuan dan berkualifikasi S1, S2, dan pondok pesantren.

Pendampingan siswa di asrama oleh Bapak/Ibu asrama dalam pelaksanaan ibadah ta’aluh, social kemasyarakatan dan belajar hidup mandiri.

Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah

Senin Selasa – Kamis Jum’at Sabtu
05.50 – 06.00 Ikrar
06.00 – 07.00 Reguler 1
06.50 – 07.00 Ikrar 07.00 – 07.30 Breakfast 06.50 – 07.00 Ikrar
07.00 – 08.00 Qiroati 07.30 – 08.30 Qiroati 07.00 – 08.00 Qiroati Memanah/B Ingg
08.00 – 08.35 Reguler 1 08.30 – 09.05 Reguler 2 08.00 – 08.35 Reguler 1 Reguler 1
08.35 – 09.10 Reguler 1 09.05 – 09.40 Regular 2 08.35 – 09.10 Reguler 1 Reguler 1
09.10 – 09.40 Snack break 09.40 – 10.00 Snack break 09.10 – 09.40 Snack break Snack break
09.40 – 10.15 Reguler 2 10.00 – 10.35 Reguler 3 09.40 – 10.15 Reguler 2 Reguler 2
10.15 – 10.50 Reguler 2 10.35 – 11.10 Reguler 3 10.15 – 10.50 Reguler 2 Reguler 2
10.50 – 11.25 Reguler 3 11.10 – 11.45 Istirahat 10.50 – 11.25 Tahfidz Reguler 3
11.25 – 12.00 Reguler 3 11.15 – 12.00 Istirahat 11.25 – 12.00 Sholat Jum’at Reguler 3
12.00 – 13.00 Ishoma 12.00 – 13.00 Ishoma 12.00 – 13.00 Ishoma Ishoma
13.00 – 13.40 Reguler 4 13.00 – 13.40 Reguler 4 13.00 – 13.40 Reguler 3
13.40 – 14.20 Reguler 4 13.40 – 14.20 Reguler 4 13.40 – 14.20 Reguler 4
14.20 – 15.0 Tahfidz 14.20 – 15.00 Leadership/tahfidz/TI 14.20 – 15.0 Reguler  4
15.00 – 15.30 Sholat Asar 15.00 – 15.30 Sholat Asar 15.00 – 15.30 Sholat Asar
15.30 – 16.45 Taekwondo/Lukis/OR

Event Sekolah

  1. KBM hari raya tertentu.  Misalnya KBM Idul Adha.  Pada hari raya ini KBM tetap berlangsung namun hanya membahas seputar anatomi hewan beserta fungsinya.  Siswa diajak melihat langsung dan diterangkan organ-organ dari hewan yang sudah disembelih.  Setelah itu siswa membaur dengan ustadz/ah yang bertugas sebagai panitia qurban BIAS.
  2. BAKSOS + ITC (International Trade by Children)

Bakti sosial pelaksanaan sebelum Ramadhan.  Acara yang dikelola ustadz/ah BIAS dengan melibatkan para siswa.  International Trade by Children (ITC) adalah program rutin tiga bulanan bagi siswa SD/SMP sebagai media belajar leadership yang aplikatif.

  1. PKL (praktek kunjungan lapangan)
  • PKL kecil/KBM di luar.  Waktu pelaksanaan tidak pasti tergantung guru mapel
  • PKL sedang.  Waktu pelaksanaan setiap akhir semester.  Kegiatan ini adalah melakukan kunjungan ke instansi/tempat yang ingin didapatkan informasinya.  Tujuannya mendapatkan informasi/ilmu langsung dari sumbernya sekaligus untuk refresing.
  • PKL besar diadakan setiap akhir tahun/dua tahun sekali.  Sama dengan PKL tetapi skalanya lebih besar.  Biasanya tujuannya juga jauh (antar pulau).
  1. PAT (pesta akhir tahun) dilakukan setiap akhir tahun pelajaran sebelum wisuda dan penerimaan raport kenaikan kelas.  Persiapan acara ini hampir sama dengan Family Day tetapi skalanya lebih kecil karena bersifat kedaerahan.
  2. Family Day acara tahunan di BIAS.  Acara ini adalah jalan-jalan santai (biasanya di obyek wisata), game, out bond, makan-makan, tausiyah.

Acara ini melibatkan semua komponen yang ada di BIAS.  Bahkan antar jaringan BIAS. Semua orang BIAS mulai dari pak Bon, tenaga dapur, staff administrasi, tenaga pengajar, kepala sekolah, ka. Divisi, ka. Departemen, Staff Ahli menjadi panitia event ini.  Acara ini dipersembahkan untuk semua siswa mulai dari jenjang BATITA, Play Group, TK, SD, BSS, SMP, SMA plus keluarganya masing-masing.

Keadaan Siswa

Siswa yang bersekolah di SMPIT BIAS Yogyakarta sebagian besar berasal dari luar provinsi DIY.  Seperti Klaten, Magelang, Temanggung, Semarang, Kebumen, Cilacap, Pekalongan, DKI, Jawa Timur.  Siswa dari luar pulau Jawa juga ada (baik siswa baru atau pindah).  Bahkan dari luar negeri seperti Lebanon, dan Jerman.

Advertisements

UJIAN KENAIKAN TAEKWONDO

Sekolah menyerahkan sepenuhnya kegiatan ini kepada saya.  Saya pun melaksakan tugas ini sebaik-baiknya. Senin, 11 Januari 2010 adalah hari pertama masuk siswa setelah liburan panjang akhir semester.  Selasa (12/01) sekitar jam 09.00 sabum (pelatih) Budi telpon saya intinya data & foto peserta ujian sudah siap besok (Rabu 13/01).  “Wah mepet sekali!” batin saya.  Menindaklanjutinya saya mendata tiap kelas siapa saja yang mau ikut ujian.  Kelas 9 sepertinya tidak ada yang ikut.  Kelas 7 A/B karena masih geup-10 (sabuk putih) semua wajib ikut ujian.  Kelas 8 A empat orang.  “Aku ikut pak,” jawab mas Fithor mantab.  Kelas 8 B satupun tidak ada yang ikut.  “Taegeuknya aku lupa pak, sudah lama banget gak latihan,” ucap mbak Pipit.  “Sudah dua minggu lebih kan pak gak latihan,” lanjut mbak Pipit.  “Aku mau ikut tapi taegeuknya diulang sekaliii aja,” sambung mbak Zahro.  Selasa (12/01) data peserta ujian sudah siap.  Untuk foto belum bisa, masalahnya hari itu anak-anak  tidak ada yang membawa dobok (seragam taekwondo).  Kalaupun ada tentunya lama karena 1 atau 2 dobok dipakai bergantian semua siswa kelas 7.  Saya masih harus mencari kamera dan menyiapkan tempat/background.  Belum lagi ngedit fotonya sebelum dicetak.  Untuk foto saya tidak sanggup.  Saya sampaikan hal ini kepada sekolah.  Setelah itu kontak dengan sabeum.  Akhirnya foto bisa dikumpulkan hari Kamis.  Rabu (13/01) sore diadakan latihan taekwondo.  Sebenarnya tidak ada jadwal latihan, tapi dilakukan untuk persiapan ujian.  Selesai latihan anak-anak kelas 7 A/B saya ambil gambarnya.  Supaya foto besok sudah siap, ba’da mabhrib itu saya langsung bergerak. Tiap Rabu ba’da maghrib saya ada jadwal ngaji dengan bag. SDM bersama penghuni asrama yang lain.  Untuk taekwondo saya izin.  Saya bela-belain sampai gak ikut ngaji.  Perut juga masih kosong.  Ahirnya beres sudah urusan administrasinya.

Ahad, 17  Januari 2010 dojang SMPIT BIAS Yogyakarta mengikuti ujian kenaikan tingkat taekwondo bertempat di STIE YKPN Seturan Yogyakarta.  “Sampai sana jam tujuh ya pak, soalnya acara dimulai jam setengah lapan,” sabeum Budi memberi tahu saya sehari sebelumnya.  Kesepakatan dengan anak-anak berangkat dari Ar Royyan jam 06.45 WIB.  Pagi itu sebagian anak putra kls 7 Alhamdulillah sudah pada mandi, tinggal ambil sarapan di dapur.  Kls 8 putra sedang mandi.  Kelas 7 putri sudah berseragam tapi belum sarapan.  Setelah nunggu mandi, sarapan, yang masih di rumah dll akhirnya kita berangkat dari Ar Royyan jam 07.06 WIB.  Sampai STIE YKPN sudah banyak orang memakai dobok berlalu lalang.  “Kita dah nyampe!” teriak anak-anak yang duduk di belakang saya.  Rombongan turun dari bis “pariwisata”.  “Mana anak putra?” tanya saya.  Setelah saya cek ternyata mereka lagi ganti baju di dalam bis.  Rombongan sudah komplit saya ajak masuk.  “Masuknya sebelah sana mas,” ucap seorang panitia sambil jarinya menunjuk ke suatu arah.  “Gimana sih pak?!” komplain mbak Hani.  Lalu kita memutar sesuai petunjuk dari panitia tadi.  Sampai di basement, rombongan mau naik tangga untuk masuk tapi, “Lewatnya sebelah sana” ucap petugas itu sambil memberi arah.  “Gimana sih!” lagi-lagi adeknya mbak Lita ini komplain.  Akhirnya sampai juga di aula.  “Taruh semua barang-barang kita di sini” instruksi saya pada anak-anak.  Dengan langkah panjang saya mencari info rombongan ikut gelombang berapa.  Saya kembali ke anak-anak untuk memberi informasi seputar gelombang ujian.  Dojang kami yang sabuk putih gelombang 6 lap.2 semua anak bisa jadi satu gelombang kecuali mbak Wine.  Sabuk kuning strip (geup-8) gelombang 4.  Hijau polos (geup-7) gelombang 6.

Saya lupa sampai STIE YKPN jam berapa, tetapi sepertinya acara belum dimulai.  Beberapa menit rombongan menunggu, ada yang jalan-jalan, ada yang latihan taegeuk, ada yang nyetel mp3, mainin kamera.  “Kepada semua peserta ujian segera memasuki ruang ujian!” terdengar panitia memberi pengumuman lewat pengeras suara berkali-kali.  Akhirnya upacara pembukaan dimulai.  Sekian menit, tiba-tiba terdengar suara musik menghentak-hentak dan suara orang memberi aba-aba.  Orang yang di luar bergegas menghambur masuk ke aula untuk melihatnya.  Saya tidak ikut masuk karena menjaga barang anak-anak.  Tapi lama-lama saya tergoda untuk melihat.  Ternyata kami dihibur dengan atraksi taekwondo.  Pertama-tama yang tampil adalah anak usia SD, mengenakan sabuk merah.  Mereka memperagakan teknik pukulan, tangkis, dan tendangan.  “HA!” “HA!” “HAA!” lantang sekali teriakan mereka.  Setelah itu atraksi orang dewasa.  “Wahh … Ck, ck, ck!” rasa kagum saya keluar.  Ada bagian atraksi ketika anak putri menendang target cepaat sekali dengan beruntun.  Walaupun putri tapi begitu lincah, dan memilik power.  Dalam pemandangan seru seperti itu, sesekali saya melongok barang anak-anak, memastikan keamanannya.  Dalam bagian lain anak putri memperagakan salah satu teknik tendangan.  “Kalau yang itu sih saya juga bisa,” batin saya. Akhirnya tiba atraksi yang membuat saya menahan nafas.  Atraksi itu menendang kyupa (papan) yang dipegang temannya.  Tendangannya berputar sambil melayang.  “PRAKK!” papan itu pecah kena tendangan tadi.  Setelah itu disambut riuh tepuk tangan orang yang hadir di ruangan itu, termasuk saya.

Sayangnya adengan seru tadi tidak satupun dapat saya dokumentasikan untuk anda.  Kamera digital yang saya bawa, tidak mau hidup sama sekali.  Karena sebelumnya ketika sedang menunggu kamera itu dimainin mbak Hani sampai low batt hingga akhirnya mati.  Setelah  atraksi selesai peserta ujian keluar dari aula untuk menunggu dipanggil.  Anak-anak makan snack yang mereka bawa.  Ada rasa bangga melihat mereka, ketika makan, mereka menawarkan pada teman-temannya, saling berbagi makanan.  Dalam waktu itu panitia memanggil satu persatu gelombang ujian. Ketika menyebut gelombang dari kami, saya beritahukan pada mereka.  Saya masih setia menunggu mereka sambil menjaga barang-barang.  Untuk menghilangkan rasa jenuh saya mendengarkan mp3 milik mbak Farah.  Walaupun isinya tidak begitu suka tetapi lumayan daripada bengong.  Satu persatu rombongan telah selesai mengikuti ujian.  Anak-anak yang berangkat dari rumah langsung pulang bersama orang tuannya.  “Pulang dulu ya pak,” mbak Wine berpamitan. Karena tidak satu gelombang maka mbak Wine selesai paling akhir untuk sabuk putih.  Saya tinggal menunggu sabuk hijau (mas Yasir dan mas Ryan).  Anak-anak yang lain sudah di bis menunggu kami.  Akhirnya semuanya sudah selesai ujian.  Setelah bayar parkir bis meluncur menuju Ar Royyan.  “Allahuakbar Allahuakbar!”  terdengar suara adzan dhuhur ketika bis lewat di janti fly over.  Setelah itu tidak ada yang bisa saya ceritakan. Dalam perjalanan pulang saya terbuai dalam mimpi.  Saya terbangun sampai di daerah Ngancar, rupanya mas/mbak SMP BIAS juga sedang terlelap.  Mungkin mereka kecapekan.  Kira-kira 2 minggu setelah ujian saya dihubungi sabum Budi.  Hasil ujian sudah jadi.  Inilah hasil ujian taekwondo :

Nama Fisik Dasar Taegeuk Kyoruki Disiplin Hasil
Kholis 65 65 65 LULUS
Dipo 65 65 65 LULUS
Rizal 65 65 65 LULUS
Akmal 65 65 65 LULUS
Ical 65 65 65 LULUS
Herjun 65 65 65 LULUS
Huda 65 65 65 LULUS
Rofi 65 65 65 LULUS
Rizki 65 65 65 LULUS
Ayu 65 65 65 LULUS
Litan 60 60 60 LULUS
Hani 60 60 60 LULUS
Anggi 60 60 60 LULUS
Annis 65 65 65 LULUS
Arista 65 65 65 LULUS
Farah 65 65 65 LULUS
Rani 65 65 65 LULUS
Fitri 60 60 60 LULUS
Hasna 60 60 60 LULUS
Afif 65 65 65 LULUS
Dijah 65 65 65 LULUS
Ades 65 65 65 LULUS
Muna 65 65 65 LULUS
Fida 60 60 60 LULUS
Ama 70 65 65 LULUS
Winda 65 65 65 LULUS
Wine 65 65 65 LULUS
Angga 60 65 65 65 LULUS
Fithor 65 60 60 65 LULUS
Yasir 65 65 60 65 60 LULUS
Ryan 65 65 60 60 65 LULUS

MENGAPA ANAK SAYA MENURUT DENGAN GURUNYA, SEDANG DENGAN SAYA TIDAK?

Pernyataan sekaligus pertanyaan seperti itu muncul hampir setiap tahun seiring dengan munculnya siswa/i baru  jenjang pra sekolah hingga SD pada setiap tahun pelajaran baru. Anak yang semula menurut dan “sembunyi di ketiak ibunya”-baca: orangtua, setelah bersekolah 3-4 bulan jadi mencuekkan ibu atau ayahnya, atau orang di rumah.

Di TK BIAS Yogyakarta yang beralamat di jalan Imogiri Timur, terlihat dari segannya rata-rata anak menuruti  instruksi orangtuanya untuk segera bergegas pulang apabila orangtua sudah datang menjemput. Sekalipun berada di sekolah dari pukul  tujuh hingga tiga sore, mereka masih kerasan. Ogah-ogahan, ketika orangtua meminta segera mengambil tas, tempat minum dan mengenakan sepatu.

Seperti yang tampak pada suatu sore; Naufal, bocah  mungil empat tahun, masih berlari-lari mengelilingi teras kelas bersama temannya meskipun sudah dijemput; sementara jarum panjang dan pendek mulai bertumpuk di angka tiga. Panggilan mamanya tak dihiraukan. Mama gelisah dan mulai terlihat tegang. Akhirnya  mengeluarkan senjatanya.

“…Dah, mama tinggal aja ya. Ustadzah juga mau pulang tu… Nanti Adek tidur di sekolah aja sama pak satpam…”.  Tapi sayang…, senjata ini tumpul. Kalimat seperti  ini sudah sering didengar Naufal, maka mudah ditebak;  “Mamaku  bohong, kemarin mama juga bilang gitu, tapi aku nggak ditinggal…” jelas Naufal pada teman bermainnya.

Tidak lama kemudian, ustadzah segera mendekati,  “Oh ya, nanti di rumah-Mas Naufal mau mengukur panjang apa ya…? Seperti tadi di kelas, mengukur pakai jengkal tangan kita…” ustadzah menggerak-gerakkan jengkalnya mengukur tubuh Naufal ke arah atas.

“Panjang kasurku…!”, Naufal tangkas merespon sambil menegap-negapkan tubuhnya untuk diukur.

“Sip. Kasur siapa lagi…?”

Naufal berbinar menatap mamanya, “Kasur mama…!”

“Sip. Oh ya, selain kasur, apalagi ya…yang bisa diukur dengan jengkal tangan Mas Naufal?”

………………………………………………………………………………………………

Tak lama kemudian, pemandangan yang tampak adalah Naufal mengambil tempat minum dan tasnya, lalu bergegas mengenakan sepatu dan menarik-narik tangan mamanya agar segera menuju mobil. Balik sebentar, lupa belum salim dengan ustadzah, lalu gesit menyusul ibunya yang sudah duduk di kursi sopir dengan semangat.

Bila kita perhatikan, didapat “data mama” sebagai berikut :

  1. Mama meminta cepat-cepat
  2. Mama mengancam (dengan ancaman yang sama)
  3. Mama tidak pernah memenuhi ancamannya

Adapun “data ustadzah” sebagai berikut:

  1. Usatdzah tidak menyinggung hal untuk cepat-cepat pulang
  2. Ustadzah  tidak marah
  3. Ustadzah membangkitkan antusias Naufal untuk melakukan sesuatu di rumah tanpa paksaan dan ancaman

Maka, mudah bukan… untuk membuat anak “menurut”, asal mengetahui jurus-jurusnya dan “nggak pake marah”. Memang sih, komunikasi bukan satu-satunya cara untuk membuat anak “menurut”, bisa jadi si Naufal tengah asyik-asyiknya menemukan dunia baru di sekolah, sebuah tantangan baru baginya untuk bereksplorasi, sosialisasi, komunikasi, dan si…si…lainnya. Bila sudah senang, selanjutnya terserah anda, kata sebuah iklan! Jadi, mendidik anak agar “menurut” orang tua, kenapa tidak?

Sumber : Sri Jati Rahayu

Lika-liku Dalam Mendidik Anak

Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

  1. Terlalu lemah Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.
  1. Terlalu menekan Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.
  1. Perfeksionis Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.
  1. Tidak memberi perhatian Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.
  1. Terlalu cemas akan kesehatannya Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.
  1. Terlalu memanjakan Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.
  1. Tidak pernah memberi kepercayaan Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. “Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?” Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.
  1. Menolak kehadiran anak Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.
  1. Suka menghukum Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.
  1. Suka menggoda Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.

HAL-HAL YANG DIINGINKAN BAGI ANAK

Sebagai orang tua, kebanyakan dari kita lebih memperhatikan perilaku anak, dan bukannya perilaku kita sebagai orang tua. Tentu ini sesuatu yang tak adil bagi anak. Cobalah lihat diri Anda dari sudut pandang anak.

Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka:

  1. Tidak bertengkar di hadapan mereka. Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?
  1. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya. Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
  1. Orang tua yang jujur. Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
  1. Toleran terhadap orang lain. Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
  1. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.
  1. Mau membangun semangat tim bersama mereka. Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.
  1. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka. Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu.
  1. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.
  1. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.
  1. Konsisten. Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.

Sumber : Isye Cahya Hikmawati, S. Psi, M.A

Memanfaatkan Daycare

Orang tua yang bekerja, menyerahkan pengasuhan anak ke orang lain, selama mereka di kantor, menjadi pilihan yang sulit ditawar.  Umumnya, mempekerjakan babysistter atau mempercayakan anak ke saudara, seperti mertua atau ipar.  Alternatif yang kini mulai berkembang, walau tidak selalu menjadi pilihan utama, adalah menitipkan anak ke daycare. Apa kelebihannya dibandingkan menyewa babysitter? Kebutuhan fisik, mulai dari asupan gizi sampai kebersihan badan, memang bisa dipenuhi babysitter.  Namun anak juga membutuhkan stimulasi-stimulasi yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.  Tapi anak juga perlu bersosialisasi agar mengerti cara hidup dan aturan dalam kelompok.  Hal-hal inilah yang belum tentu bisa dilakukan babysitter“Daycare  yang baik berfungsi lebih dari sekedar tempat penitipan, tapi juga sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan perangsangan, khususnya di periode emas (golden age) seorang anak yakni usia 0-5 tahun.  Karena pada masa ini, anak mampu menyerap segala sesuatu dengan cepat.  Apabila ingin memercayakan pengasuhan anak kepada pihak yang kompeten,ada hal-hal yang perlu dicermati.

Anggaran. Biaya pendidikan, khususnya bagi anak usia dini, hendaknya tidak dianggap sekedar pengeluaran, melainkan bentuk investasi jangka panjang.   Jika ingin memanfaatkan fasilitas daycare, sisihkan sebagian penghasilan keluarga untuk ini.

Seleksi lokasi. Carilah informasi dari internet atau rekomendasi dari teman.  Seleksi awal hendaknya mempertimbangkan lokasi.  Pilih yang dekat dengan kantor untuk menghemat waktu.  Perhatikan pula faktor keamanan lokasi.  Sebaiknya jangan memilih daycare di tempat yang terlalu terbuka dan kurang pengawasan.

Suasana di daycare. Ini adalah faktor yang tidak bisa diindahkan begitu saja.  Misalnya perbandingan antara jumlah pengasuh (caregivers) dengan jumlah anak, serta kegiatan hariannya.  Luangkan waktu untuk datang berkunjung dan mengamati lansung semua fasilitas yang disediakan.

Kesediaan tenaga ahli. Kita perlu tahu apakah daycare itu menyediakan tenaga-tenaga ahli seputar kesehatan dan psikologi anak, ahli gizi dan psikolog perkembangan.  Ini sudah merupakan kebutuhan dasar.  Hal ini bisa kita tanyakan kepada pengelola.  Sebagai pertimbangan lebih lanjut, tidak ada salahnya bertanya latar belakang para pengasuh yang bekerja di sana.

Jangan Emosi Hadapi Protes Anak

Membesarkan, mendidik dan mendewasakan anak secara proporsional dan professional, disela-sela kesibukan kerja dan aktivitas.  “Terkadang bikin pusing”.  Sekarang ini dengan makin canggihnya peralatan telekomunikasi dan pesatnya perkembangan dunia maya, maka mendidik anak harus bisa memadukan seni mengawasi dengan memberikan kepercayaan.  Karena seketat apa pun anak diawasi dalam penggunaan berbagai macam permainan, Komputer dengan akses internetnya, maka ketika anak di luar rumah, orang tua hanya bisa ‘pasrah’ dan berdoa agar anak-anaknya benar-benar tak tergoda untuk melakukan penyimpangan.  “Semua itu bisa kita lakukan, ketika dalam kesempatan bertemu benar-benar terjadi komunikasi yang berkualitas.  Memang tak jarang anak protes karena perlakuan ketat dalam pengawasan.  Beberapa ungkapan terkadang cukup tajam.  Seperti misalnya ungkapan protes ‘Ini urusan pribadiku, mengapa dicampuri?.  Namun menghadapi protes anak itu, jangan emosi.  Justru dengan penuh kesabaran dan ketekunan, dengan makin memahami dan mendalami anak-anak, kita (suami+istri) bisa saling bahu-membahu dan saling mengisi dalam membina anak-anak mereka.

Terkait dengan dunia teknologi informasi, kita bisa kenalkan pada anak sejak dini.  Kepercayaan dan tanggungjawab pun diberikan, kendati tetap tak bisa 100%.  Mengajarkan anak mandiri terkadang muncul dilema tersendiri.  Namun ketika mandiri, yah, cepat hilang (maksudnya gak tinggal bareng kita lagi).  Disini kedekatan emosional ala budaya Timur menjadi tantangan tersendiri.

Keluarga tetap nomor satu.  Jangan sampai aktivitas itu mengalahkan perhatian pada keluarga, khususnya anak-anak.

Sumber : Nurul Arifin (artis, aktivis parpol, aktivis kegiatan sosial)